Makassar, 7 Januari 2026 – Bhabinkamtibmas Polsek Tallo, Kaluku Bodoa, Aipda Rolis Abdillah, kembali membuktikan ketangkasannya dalam problem solving melalui mediasi. Ia menindaklanjuti laporan warga atas nama Sitti, berdomisili di Jalan Sinassara, yang mengalami penganiayaan dari mantan kekasihnya, Khaerul, warga Jalan Galangan Kapal Permandian 1. Insiden ini dipicu kecemburuan berlebih yang berujung kekerasan fisik.
Orang tua Sitti tak tinggal diam. Mereka keberatan berat atas perlakuan kasar terhadap putrinya dan langsung melapor ke Bhabinkamtibmas Kaluku Bodoa. “Kami percaya pada Pak Rolis karena beliau selalu dekat dengan warga. Cepat tanggapnya luar biasa,” cerita orang tua korban kepada awak media. Tanpa ragu, Aipda Rolis Abdillah menjemput terduga pelaku dari rumahnya. Kedua keluarga kemudian dipertemukan di Polsek Tallo untuk proses mediasi intensif.
Mediasi itu sukses besar. Kedua belah pihak mencapai kesepakatan damai secara kekeluargaan. Mereka menandatangani surat pernyataan bersama, disaksikan perwakilan masing-masing keluarga, sebagai penguatan komitmen. “Ini bukti bahwa pendekatan humanis polisi efektif menyelesaikan konflik tanpa pengadilan,” ujar Kapolsek Tallo, AKP Asfada, SE, MH, yang langsung menanggapi dan mengapresiasi kinerja anak buahnya.
AKP Asfada tak segan memberikan pujian. “Saya bangga dengan Aipda Rolis Abdillah. Ia telah menerapkan Polmas secara optimal, menjaga keharmonisan masyarakat Kaluku Bodoa. Kasus seperti ini sering terjadi, tapi mediasi berhasil cegah eskalasi,” tegasnya saat ditemui di kantor Polsek Tallo. Kapolsek juga menekankan bahwa inisiatif ini selaras dengan visi Polda Sulsel dalam membangun Polri yang merakyat.
Kronologi kasus ini mencerminkan maraknya kekerasan dalam relasi (KDRT) di kawasan urban Makassar. Sitti, korban berusia 22 tahun, mengaku sempat trauma akibat pukulan di lengan dan wajah. Khaerul, 25 tahun, mengaku cemburu karena Sitti dekat dengan orang lain pasca putus. “Saya menyesal. Mediasi membuka mata saya,” kata Khaerul singkat usai mediasi. Proses ini tak hanya damai, tapi juga edukatif, dengan komitmen pelaku ikut konseling.
Keberhasilan ini bagian dari rekam jejak Aipda Rolis. Sejak ditugaskan di Kaluku Bodoa, ia telah mediasi puluhan kasus serupa, dari sengketa tetangga hingga konflik remaja. Data internal Polsek Tallo menunjukkan penurunan 25% laporan KDRT tahun 2025 berkat pendekatan ini. “Bhabinkamtibmas adalah mata dan telinga polisi di tingkat desa. Mereka cegah masalah kecil jadi besar,” tambah AKP Asfada.
Camat Tallo Bapak Ramli Lallo, S.Pd., M.Si., yang wilayahnya mencakup Kaluku Bodoa, ikut angkat bicara. “Kami dukung penuh Polsek Tallo. Akan ada pertemuan rutin dengan tokoh masyarakat untuk sosialisasi,” katanya.
Kisah Sitti dan Khaerul jadi inspirasi. Ia tunjukkan kekuatan mediasi dalam membangun perdamaian. Bagi warga, ini pengingat: laporkan dini ke Bhabinkamtibmas terdekat. Polri komitmen lindungi masyarakat, seperti ditegaskan Kapolsek Tallo AKP Asfada, semoga model ini menular ke seluruh Sulsel.














