OPINI

Muna dan Batas Ekologisnya Sawit Bukan Pilihan Rasional

1
×

Muna dan Batas Ekologisnya Sawit Bukan Pilihan Rasional

Sebarkan artikel ini
Ket : Aladin Tunda, S.Hut., M.Hut, penulis Opini

Muna dan Batas Ekologisnya Sawit Bukan Pilihan Rasional

Oleh : Aladin Tunda, S.Hut., M.Hut

banner 970x250

LENSA-RAKYAT.COM || MUNA – Rencana pengembangan perkebunan kelapa sawit oleh PT Krida Agrisawita di Kabupaten Muna yang telah dinyatakan “layak” melalui ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL) semestinya tidak dipahami sebagai akhir dari perdebatan perlu dibaca secara kritis dan ilmiah. Kelayakan administratif bukanlah jaminan kesesuaian ekologis. Dalam kebijakan publik, prosedur bisa terpenuhi, tetapi daya dukung wilayah belum tentu memadai. Karena itu, setiap rencana pembangunan harus bertolak dari karakter biofisik dan sosial wilayahnya. Pembangunan yang mengabaikan karakter tersebut berisiko melampaui batas ekologis yang tidak mudah dipulihkan.

Perdebatan yang muncul di tingkat lokal antara sebagian anggota DPR yang melihat sawit sebagai mesin pertumbuhan ekonomi dan pemerintah daerah yang cenderung lebih berhati-hati sebenarnya mencerminkan persoalan yang lebih mendasar. Arah pembangunan seperti apa yang layak bagi wilayah kepulauan dengan karakter ekologis spesifik, Apakah investasi berbasis monokultur adalah pilihan rasional, atau justru menyimpan risiko jangka panjang?

Secara biofisik, Muna bukan wilayah tanpa batas. Sebagian bentang alamnya didominasi kawasan karst dengan kemampuan simpan air terbatas dan neraca air fluktuatif. Penelitian neraca air lahan pada kawasan karst Muna oleh Tufaila, M., et al. (2017) menunjukkan bahwa ketersediaan air tidak stabil sepanjang tahun. Dalam sistem karst, air cepat meresap melalui rekahan batuan, tetapi tidak selalu tersimpan dalam volume cukup untuk mendukung tanaman dengan kebutuhan air relatif tinggi. Temuan ini sejalan dengan kajian hidrologi di DAS Tiworo menggunakan model SWAT oleh Aladin Tunda, et al. (2023) yang menunjukkan rendahnya kontribusi aliran dasar (baseflow). Artinya, sistem sungai di wilayah tersebut sangat bergantung pada hujan langsung, bukan pada cadangan air tanah yang stabil. Penelitian La Ode Sumahir et al. (2023) juga menegaskan bahwa tidak seluruh lahan di Muna cocok untuk pertanian intensif, sebagian wilayah memiliki kerentanan erosi dan lebih sesuai untuk agroforestri atau pola campuran yang menjaga tutupan vegetasi.

Jika sawit dikembangkan secara luas di atas lahan karst, ilustrasinya jelas, pembukaan ribuan hektare vegetasi akan mengurangi tutupan penyangga alami. Saat musim hujan, air hujan akan lebih cepat menjadi limpasan permukaan karena tanah tipis di atas batuan kapur memiliki daya ikat rendah. Resiko banjir lokal dan erosi meningkat. Pada saat yang sama, karena cadangan air tanah di karst tidak stabil, musim kemarau akan terasa lebih kering. Tanaman sawit yang membutuhkan suplai air relatif konsisten dapat memicu tekanan tambahan pada sumber air, baik melalui pengambilan air maupun perubahan struktur tanah. Dalam jangka panjang, masyarakat berpotensi menghadapi paradoks banjir lebih sering saat hujan, tetapi kekeringan lebih parah saat kemarau.

Kelapa sawit adalah tanaman monokultur jangka panjang yang memerlukan ketersediaan air relatif stabil dan input nutrisi tinggi. Ketika ditanam pada lahan dengan keterbatasan hidrologis, tekanan terhadap air tanah dan perubahan tata guna lahan berpotensi memperparah kekeringan lokal. Embung dan rekayasa teknis mungkin membantu, tetapi tidak serta-merta menggantikan fungsi ekologis alami yang hilang akibat pembukaan ribuan hektare lahan. Narasi ekonomi sawit sering menjanjikan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan. Namun secara struktural, sawit adalah sistem padat lahan yang dalam jangka panjang semakin terdorong ke mekanisasi. Ketergantungan pada satu komoditas ekspor juga membuat daerah rentan terhadap Ketidakstabilan harga global. Ketahanan ekonomi lokal justru lebih kuat ketika berbasis pada diversifikasi usaha rakyat. Jika pembangunan Muna ingin berkelanjutan, maka batas-batas ekologisnya harus menjadi fondasi kebijakan. Karst yang rapuh, neraca air yang fluktuatif, dan sistem sosial ekonomi berbasis keragaman usaha rakyat menunjukkan bahwa monokultur sawit bukanlah pilihan rasional dalam jangka panjang. Sawit mungkin layak di atas kertas. Namun keberlanjutan wilayah tidak ditentukan oleh kelayakan administratif, melainkan oleh kesesuaian antara investasi dan daya dukung alamnya.

Penelitian Arniawati.,et al.,(2025) yang berjudul Community resilience in the community plantation forest program: Analysis on Muna Island, Southeast Sulawesi, Indonesia menunjukkan bahwa ketahanan masyarakat Muna bertumpu pada diversifikasi sumber penghidupan dan pengelolaan berbasis komunitas. Sistem ekonomi lokal berkembang dalam pola campuran, pertanian rakyat, hutan tanaman masyarakat, perikanan, dan usaha kecil. Dalam teori resiliensi sosial-ekologis, sistem yang paling tangguh adalah yang terdiversifikasi dan adaptif. Monokultur sawit bergerak ke arah sebaliknya, ketergantungan pada satu komoditas, terhubung pada fluktuasi pasar global, dan terpusat pada struktur korporatif. Jika harga sawit jatuh, dampaknya sistemik. Jika terjadi gangguan ekologis, masyarakat kehilangan alternatif. Ketahanan yang sebelumnya dibangun melalui keberagaman justru terkikis oleh homogenisasi ekonomi. Karena itu, pembangunan di Muna semestinya tidak hanya bertanya apakah investasi bisa masuk, tetapi apakah ia selaras dengan karakter wilayah. Muna memiliki batas ekologis nyata, sistem hidrologi sensitif, bentang alam karst rapuh, dan kemampuan lahan terbatas. Ia juga memiliki modal sosial kuat, ekonomi rakyat yang beragam dan adaptif. Mengganti sistem yang beragam dengan monokultur skala besar berarti menggeser fondasi ketahanan yang telah lama terbentuk. AMDAL mungkin menyatakan proyek ini “layak” dalam kerangka mitigasi dampak. Namun pertanyaan strategis yang lebih penting Adalah, apakah ini pilihan pembangunan terbaik bagi Muna?

Sawit mungkin menawarkan pertumbuhan cepat. Tetapi pertumbuhan tanpa kesesuaian ekologis dan sosial adalah pertumbuhan yang rapuh. Jika pembangunan berkelanjutan benar-benar menjadi tujuan, maka kebijakan harus menghormati batas ekologis dan memperkuat sistem yang sudah terbukti adaptif. Muna bukan lahan kosong untuk eksperimen monokultur. Ia adalah wilayah dengan keseimbangan yang harus dijaga. Dan masa depan yang bijak adalah masa depan yang tumbuh dari karakter wilayahnya sendiri. Penelitian – penelitian yang ada memberi sinyal bahwa wilayah ini memiliki kerentanan hidrologi, keterbatasan lahan, dan struktur sosial yang justru kuat karena keberagamannya. Dalam situasi seperti ini, kehati-hatian bukanlah sikap anti investasi, melainkan bentuk rasionalitas ilmiah. Mengabaikan temuan-temuan tersebut demi ekspansi cepat berisiko menciptakan persoalan ekologis dan sosial jangka panjang.

Pertanyaannya kini bukan sekadar apakah sawit bisa ditanam di Muna, tetapi apakah Muna sanggup menanggung konsekuensinya.

ARTIKEL

Anak yang berhadapan dengan hukum tidak boleh menjadi korban kedua kalinya—korban dari sistem yang tak siap menjalankan putusannya sendiri. Ketika putusan tak bisa dijalankan, yang gagal bukan anaknya, melainkan negaranya.