OPINI

Sejarah Terukir, Perempuan Lahir di Gelanggang Politik dan Podium Kampus

75
×

Sejarah Terukir, Perempuan Lahir di Gelanggang Politik dan Podium Kampus

Sebarkan artikel ini

Opini : Rasmin Jaya (Mantan Pengurus BEM UHO Periode 2020-2021, Ketua DPC GMNI Kendari 2023-2025)

‎Seperti gayun bersambut, di suatu pagi terbitnya matahari di ufuk timur menanti sejarah baru akan proses dan masa depan lembaga kemahasiswaan di salah satu kampus terbesar di Sulawesi Tenggara yakni Universitas Halu Oleo (UHO).

‎Bukan sebuah kebetulan, akan hadirnya seseorang yang tangguh dalam kompetisi sengit, di gelanggang politik kampus, sejarah terukir perempuan berhasil mendobrak kebekuan pergerakan mahasiswa, melawan sesuatu yang mustahil bahwa perempuan juga bisa memimpin, ia hadir di podium, menciptakan sejarah baru.

‎Bagi penulis, mungkin saja ia lahir dari benturan realitas dan fenomena panjang akan nasib dan masa depan organisasi kampus ke depan bahkan mungkin juga ia lahir dari akumulasi kekecewaan yang ingin merubah tatanan kelembagaan semakin baik lagi. Ini adalah optimisme mendobrak kembali emansipasi gerakan perempuan sekaligus kembali menegaskan peran dan posisi perempuan dalam organisasi dan politik.

‎Mengingat pentingnya membangkitkan semangat keberanian dan kemandirian perempuan untuk terus berkarya dan mencetak sejarah baru dalam berbagai bidang kehidupan, dalam lembaga kemahasiswaan apa lagi.

‎Ialah Fitriyah–Nia Memenangi Pemira BEM UHO Kendari 2025, seorang perempuan tangguh, menggalang massa dan kekuatan mahasiswa dengan merebut 9.000 suara lebih.

‎Terpilihnya Fitriyah sebagai Ketua BEM UHO Kendari menandai tonggak sejarah baru, karena ia menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Presiden Mahasiswa (Presma) UHO Kendari.

‎Fitriyah merupakan mahasiswi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) angkatan 2022 asal Kabupaten Bombana. Ia didampingi Nia Astarina, mahasiswi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis angkatan 2023 asal Kabupaten Buton Utara, sebagai Wakil Ketua BEM.

‎Bagi mereka duet perempuan ini berkomitmen bekerja sama untuk menjalankan roda organisasi dan membawa aspirasi mahasiswa UHO secara menyeluruh.

‎Kemenangan ini merupakan hasil dukungan kolektif mahasiswa dan menjadi awal tanggung jawab besar dalam memimpin organisasi kemahasiswaan.

‎Mungkin juga ini adalah emansipasi gerakan perempuan hingga mendobrak partisipasi pemilih mahasiswa di kalangan perempuan karena kemasan isu jender nan strategis yang mencoba menyentuh relung hati, perasaan dan nadi perempuan hingga suara mereka meledak.

Sebuah Tonggak Sejarah Baru

‎Momentum ini semakin istimewa, sebuah tonggak sejarah yang menjadi landasan perjuangan perempuan khususnya di Sulawesi Tenggara. Mungkin juga ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua, khususnya generasi muda, untuk memahami, mengilhami dan melanjutkan semangat nilai-nilai perjuangan.

‎Fitriyah–Nia menjadi pelopor, memenangkan Pemira BEM UHO serta yang akan memimpin jalannya Lembaga Kemahasiswaan ke depan yang lebih progresif dan revolusioner.

‎Tentang perempuan berani hadir dalam gelanggang politik kampus, tampil di podium, bersuara membangun kesadaran tentang mengatasi pelecehan seksual, perempuan dibidang politik, dan mewujudkan kampus aman tentang strategi pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan kampus, menjadi perbincangan kawula muda mahasiswa yang harus segera di tuntaskan.

‎Penulis sangat mengapresiasi gebrakan, terobosan, kreativitas dan inovasi yang di lakukan oleh perempuan-perempuan tangguh. Meskipun demikian, amanah sebesar itu tidak lepas dari berbagai tantangan, dinamika kelembagaan yang serba kompleks, di butuhkan kerja keras, ketekunan, kesabaran dan dedikasi yang luar biasa dalam mengelola lembaga sebesar kampus Universitas Halu Oleo yang ada di Sulawesi Tenggara.

‎Bukan ingin mengklasifikasikan sesuatu tentang laki-laki dan perempuan, tetapi hal demikian patut kita acungkan jempol. Yang mungkin juga ingin akan menginpirasi kalangan mahasiswa dan generasi mendatang, bahwa tak selamanya lembaga dan organisasi itu patriarki. Mereka bisa memercikkan sinar harapan tentang masa depan perempuan, ia ada dalam tataran tersebut serta bisa merubah jalan sejarah serta berjuang untuk isu-isu strategis.

‎Beberapa bulan lalu juga Sarinah GMNI Kendari menggagas sebuah dialog, dengan tema “Merdeka Tanpa Takut, Perempuan Mengukir Sejarah Baru”, mereka merencanakannya dengan sangat komprehensif dan bisa membuka mata hati serta pikiran tentang kembali merenungkannya nilai-nilai luhur perjuangan perempuan.

‎Mendobrak kebekuan pergerakan perempuan selama ini menjadi salah satu langkah strategis dan paling relevan dengan fenomena sekarang.

‎Menegaskan Kembali Peran Perempuan Dengan Isu Strategis

‎Menjadikan peran, posisi dan tanggung jawab perempuan merasa lebih berharga bukan hanya atas dirinya sendiri, tapi bagi kebanyakan orang serta masyarakat di berbagai komponen, tentang hak-hak mahasiswa di kampus apalagi.

‎Ini isu sangat strategis, urgen dan krusial tentang wacana tentang perempuan baik itu di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan bahkan masalah perempuan yang mengalami pelecehan seksual dan kekerasan.

‎Sehingga momentum ke depan menjadi kesempatan dan instrumen untuk pertukaran gagasan segar, ide cemerlang dan terobosan yang kongkret serta berdampak kepada perempuan serta masyarakat secara umum.

‎Perempuan menjadi salah satu tonggak sejarah dalam perjuangan perempuan Indonesia untuk mendapatkan hak-haknya. Hadirnya aktivis perempuan diajak untuk merenungkan serta menegaskan perjuangan panjang perempuan dalam sejarah Indonesia, serta pentingnya terus memperjuangkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di era sekarang.

‎Harapan penulis perlu ada upaya serius untuk terus mendorong kualitas dan kapasitas semangat perempuan dalam memperjuangkan hak-haknya dan itu sangat di butuhkan kedudukan perempuan yang lebih strategis, profesional, berintegritas yang betul-betul bisa menyuarakan masalah di atas.

‎Kilas Balik Perjuangan

‎Menggali makna dan relevansi sejarah tersebut bagi kondisi perempuan saat ini. Ia berharap dengan semangat untuk “Merdeka Dari Rasa Takut dan Berani Mengukir Prestasi” dapat tertanam kuat dalam diri setiap perempuan untuk memperjuangkan haknya.

‎Berangkat dari fenomena partisipasi dan keterwakilan perempuan dalam ruang publik dan politik, masih terlalu minim untuk mengisi ruang parlemen dan pemerintahan, sehingga perlu ada upaya serius untuk terus mendorong kualitas dan kapasitas semangat perempuan dalam memperjuangkan hak-hak politik sebagai representasi dalam mengakomodir program-program yang bersentuhan langsung dengan perempuan.

‎Pemimpin Mahasiswa Katalisator Gerakan

‎Ulasan penulis sebelumnya, momentum pesta demokrasi mahasiswa sesuatu yang tidak bisa kita pandang enteng, dan partisipasi kita amat sangat di butuhkan sebagai wujud rasa kepedulian kita terhadap almamater tercinta.

‎Transformasi regenerasi kepemimpinan menjadi suatu keharusan dalam setiap periode menjadi pemimpin. Upaya itu semata mata hanya untuk menjadikan kampus besar yang ada di Sulawesi Tenggara sebagai kawah candradimuka menciptakan dan membentuk calon pemimpin di masa depan, menjadi labolatorium ilmu dan pengetahuan dengan segala prosesnya, menjadi ruang pengabdian yang menjadikan kita semakin bermanfaat untuk masyarakat.

‎Kepeloporan pemimpin lembaga untuk memberikan terobosan guna menjawab masalah yang semakin kompleks dan tantangan di era globalisasi dan modernisasi saat ini.

‎Sebagai pemimpin lembaga harus lebih jelih, aktual dan pro aktif. Hadirnya pemimpin yang berkualitas, berintegritas dan punya kapasitas yang mumpuni harus mampu menjawab kecenderungan kepemimpinan sebelumnya.

‎Kepercayaan Mahasiswa Terhadap Lembaga

‎Membangun kepercayaan dan integritas diri dikalangan mahasiswa sangat penting. Sehingga posisi dan legitimasi yang didukung oleh kekuatan mahasiswa akan lebih muda menggerakkan seluruh instrumen dan memobilisasi ketika persoalan itu ada. kerja-kerja konsolidasi sangat di butuhkan mengingat sekarang hadirnya pemimpin baru di institusi pendidikan menjadikan tantangan tersendiri untuk kalangan mahasiswa.

‎Kampus dan institusi pendidikan juga harus menjadi roll model tentang praktek-praktek politik dan demokrasi yang baik, berintegritas, substansial dan bermartabat agar melahirkan pemimpin yang mampu menjawab setiap persoalan kemelut pendidikan yang ada di kampus besar dan tercinta Universitas Halu Oleo (UHO). Pemimpin juga harus berpikir mampu melampaui generasi dan zaman tentang apa yang dibutuhkan kedepan, bukan hanya sebagai formalitas tetapi harus menjadi sebuah gerakan kongkret dan nyata bagi semua orang.

‎Sebab partisipasi mahasiswa adalah amanah, kepercayaan yang harus di jalankan dengan sebaik mungkin. Partisipasi mahasiswa ini pun sebagai sarana edukasi dan ruang belajar bagi kader pergerakan, sekaligus sarana penyebaran pemikiran ideologi, nilai-nilai perjuangan, wacana, ide dan gagasan pergerakan mahasiswa dan menciptakan pemimpin-pemimpin bangsa ke depannya.

‎Menjadi salah satu momen yang penuh makna dan keistimewaan bagi para mahasiswa. Tradisi tahunan ini tidak hanya sekadar kegiatan seremonial, atau hanya menggugurkan tanggung jawab tetapi harus bisa melahirkan keputusan strategis tentang masa depan lembaga dan kampus tercinta UHO.

‎Ini adalah ruang kawah candradimuka dan peran mereka dalam perubahan sosial. Dalam ruang lingkup pendidikan inilah kita berangkat, menapaki kelembagaan kampus, menempa diri, membangun integritas, membentuk jati diri serta mendorong kesadaran akan diskriminasi dan kekerasan, serta keberanian perempuan untuk bersuara.

‎Mulailah dengan tanggung jawab kita sebagai mahasiswa, seperti membaca, diskusi, menulis, dan aksi. Tradisi gerakan dan intelektual harus tetap hidup, karena ini yang akan menghidupkan wacana kritis di kampus. Pentingnya organisasi yang matang untuk memastikan keberlangsungan gerakan mahasiswa di kampus.

‎Proses Kelembagaan yang baik akan melahirkan pemimpin yang tangguh, bertanggung jawab, integritas dan memiliki idealisme tinggi serta tidak terlena dengan rayuan dan godaan sesaat.

‎Sekali lagi selamat atas terpilihnya 2 perempuan tangguh, yang sudah berani mendobrak kebekuan lembaga kemahasiswaan dan pergerakan di kampus. Berani tampil di atas mimbar 01 UHO ia adalah Fitriyah–Nia yang memenangi Pemira BEM UHO Kendari 2025, dengan merebut 9.000 suara lebih.

ARTIKEL

Anak yang berhadapan dengan hukum tidak boleh menjadi korban kedua kalinya—korban dari sistem yang tak siap menjalankan putusannya sendiri. Ketika putusan tak bisa dijalankan, yang gagal bukan anaknya, melainkan negaranya.