PENDIDIKAN

Harapan di Tengah Gelombang

×

Harapan di Tengah Gelombang

Sebarkan artikel ini

Semangat Anak Pulau Tetap Menyala Mengejar Ilmu


Lensa Rakyat.com. Makassar. Di tengah deburan ombak dan hamparan laut biru yang memukau, tersembunyi semangat juang yang membara dalam diri anak-anak di pulau-pulau terpencil Sulawesi Selatan. Keterbatasan akses dan infrastruktur tak mampu meredupkan dahaga mereka akan ilmu pengetahuan. Dengan senyum sumringah, anak-anak pulau ini menyusuri jalan kecil menuju ke sekolah yang sederhana

Kisah seperti ini salah satunya datang dari Pulau Lumu-lumu, Kecamatan Sangkarrang dan beberapa Pulau di Kepulauan (Pangkep). Setiap pagi, sebelum matahari meninggi, Sebut saja Muh Akbar (10) bersama teman-temannya sudah bersiap. Buku dan alat tulis dimasukkan ke dalam tas sederhana, siap menempuh perjalanan laut yang bisa memakan waktu hingga satu jam, tergantung pada kondisi cuaca. “Kami senang sekolah, meskipun harus naik perahu,” ujar Akbar dengan mata berbinar. “Saya ingin jadi guru nanti.”

Keterbatasan fasilitas seringkali menjadi tantangan terbesar. Ruang kelas yang sederhana dengan minimnya buku dan peralatan belajar menjadi pemandangan sehari-hari. Namun, semangat para guru patut diacungi jempol. Dengan dedikasi tinggi, mereka berupaya menciptakan suasana belajar yang kondusif, memberikan yang terbaik bagi anak-anak pulau.

Komitmen ini telah dibuktikan oleh Drs.Umar Kamaruddin, M.Si selaku Kepala SMA Sawerigading Makassar. Diungkapkan oleh Pak Umar (sapaan akrab), sudah 10 tahun, SMP dan SMA Sawerigading Makassar terus memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak yang berada dipulau. Dan sudah banyak lulusan SMA Sawerigading yang berhasil mewujudkan mimpi mereka terjung ke tengah-tengah masyarakat.

Ditambahkan oleh Pak Umar, lulusan SMA Sawerigading Makassar ada yang berhasil, menjadi politikus, Polri dan guru. Dan masih banyak lagi lulusan satuan pendidikan ini berhasil meraih cita-cita dan impian mereka.

Sementara Kepala Sekolah SD Negeri Lumu-Lumu, Pak Syafaruddin ( sapaan akrabnya), mengatakan semangat anak-anak di pulau ini begitu besar untuk dapat bersekolah. Walaupun sarana dan prasarana yang dimiliki sangat minim. Tapi Kami dengan seluruh stakeholder menyambut para anak didik yang mau mengenyam pendidikan”

“ Dengan melihat senyum diwajah para anak membuat kami sangat bahagia bisa mengabdikan diri di Pulau yang memiliki jarak tempuh 3 jam dengan menggunakan perahu jolloro’ untuk menjangkau Kota Makassar, imbuhnya.

“Mengajar di sini membutuhkan kesabaran dan inovasi,” tutur Pak Ismail, seorang guru sekaligus Operator Sekolah di SD Negeri Lumu-Lumu. “Kami harus kreatif memanfaatkan sumber daya yang ada agar anak-anak tetap semangat belajar. Dukungan dari pemerintah dan berbagai pihak sangat kami harapkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di pulau ini.”

Diamini selama ini Pemerintah daerah sendiri menyadari betul tantangan pendidikan di wilayah kepulauan. Berbagai upaya terus dilakukan, mulai dari pengadaan perahu sekolah, pembangunan ruang kelas baru, hingga program pelatihan guru. Namun, tantangan geografis dan logistik seringkali menjadi kendala dalam pemerataan kualitas pendidikan.

Kisah Akbar dan anak-anak pulau lainnya adalah potret nyata betapa besar arti pendidikan bagi mereka. Di tengah keterbatasan, mereka menyimpan mimpi besar untuk membangun diri dan daerahnya kelak. Uluran tangan dan perhatian dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa harapan di tengah gelombang ini tidak pernah surut, dan setiap anak di pulau terpencil memiliki kesempatan yang sama untuk meraih cita-citanya. Pendidikan adalah jembatan emas menuju masa depan, dan anak-anak pulau berhak mendapatkan akses yang layak untuk mendapatkan pendidikan seperti anak-anak yang berada di kota.

Haji Hamid salah satu tokok masyarakat yang selama ini setia memberikan motivasi kepada anak-anak di pulau Lumu-lumu tempat dia bermukim. Selama 10 tahun menjadi koordinator antara SMP / SMA Sawerigading Makassar dengan masyarakat Pulau Lumu-lumu dan Laikang.

Lebih dari sekadar tempat menimba ilmu, sekolah di pulau-pulau terpencil seringkali menjadi pusat kehidupan komunitas. Interaksi antara guru, murid, dan orang tua terjalin erat, menciptakan lingkungan belajar yang hangat dan gotong royong menjadi nilai yang tak terpisahkan, di mana orang tua bahu-membahu membangun dan merawat fasilitas sekolah seadanya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Andi Bukti Djufrie,M.SP. M.Si, menyampaikan komitmen pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan di wilayah pulau. 

“Kami menyadari betul bahwa anak-anak di pulau memiliki potensi yang sama dengan anak-anak di wilayah daratan. Tantangan geografis memang besar, tetapi kami terus berupaya mencari solusi inovatif, seperti pemanfaatan teknologi  atau pemanfaatan sarana lainnya untuk pembelajaran jarak jauh di wilayah yang sulit dijangkau,” jelasnya.

Selain tantangan infrastruktur dan fasilitas, ketersediaan tenaga pendidik juga menjadi isu krusial. Banyak guru yang enggan bertugas di pulau terpencil karena berbagai alasan, mulai dari akses yang sulit hingga minimnya fasilitas penunjang kehidupan. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah daerah berupaya memberikan insentif khusus dan program pelatihan yang relevan bagi guru-guru yang bersedia mengabdi di pulau.

Namun, upaya pemerintah saja tidaklah cukup. Peran serta aktif dari berbagai pihak, termasuk organisasi non-pemerintah dan sektor swasta, sangat dibutuhkan. Beberapa organisasi telah bergerak memberikan bantuan berupa buku, seragam sekolah, hingga program beasiswa bagi anak-anak berprestasi di pulau.

Kisah inspiratif juga datang dari para alumni sekolah di pulau terpencil yang berhasil meraih kesuksesan di berbagai bidang. Mereka kembali ke kampung halaman untuk memberikan motivasi dan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan di pulau mereka. Ini membuktikan bahwa dengan kesempatan yang tepat, anak-anak pulau juga mampu bersaing dan berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.

Ke depan, sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak diharapkan semakin kuat.

Investasi dalam pendidikan di pulau terpencil bukan hanya investasi dalam mencerdaskan generasi penerus bangsa, tetapi juga investasi dalam membangun masa depan yang lebih adil dan merata bagi seluruh anak Indonesia, dari Sabang hingga Merauke, termasuk mereka yang berjuang di tengah gelombang. Semangat belajar anak-anak pulau adalah bara harapan yang harus terus dijaga dan dikobarkan.

Ini yang seharus juga menjadi perhatian besar pemerintah dalam hal ini Walikota dan Kepala Dinas Pendidikan. baik itu Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar maupun Provinsi Sulawesi Selatan. Bagaimana para generasi bangsa yang berada di pulau-pulau terpencil yang sulit dijangkau dapat tetap mengenyam pendidikan.

Hidup di pulau seringkali menyuguhkan pemandangan yang mempesona dan ketenangan yang diidamkan. Namun, di balik keindahan alamnya, tersembunyi tantangan besar bagi anak-anak yang ingin menggapai pendidikan menengah. Bayangkan, impian untuk melanjutkan ke SMP atau SMA terbentur pada kenyataan pahit: sekolah yang tak kunjung hadir di pulau mereka. Jangankan gedung sekolah yang layak, bahkan sekadar ruang kelas darurat pun seringkali absen. Mungkin di pulau lain yang dekat dan dapat diakses oleh pemerintah, telah berdiri gedung sekolah, tapi lain dengan pulau-pulau yang jauh.

Alhasil, satu-satunya cara untuk terus belajar adalah dengan menempuh perjalanan yang sangat jauh. Mereka harus melintasi lautan dengan perahu kecil, berjibaku dengan ombak dan terik matahari, hanya untuk mencapai pulau tetangga yang memiliki sekolah. Perjalanan yang seharusnya menjadi petualangan menyenangkan, berubah menjadi perjuangan berat yang menguras tenaga, waktu, dan tak jarang, juga biaya yang tidak sedikit.

Tak jarang, ketidakpastian transportasi menjadi momok menakutkan. Cuaca buruk bisa kapan saja datang, mengurungkan niat untuk bersekolah dan memaksa mereka untuk tertahan di rumah. Keterbatasan ekonomi keluarga pun menambah pelik permasalahan ini.

Ketiadaan SMP dan SMA di pulau bukan hanya sekedar masalah infrastruktur. Ini adalah perampasan kesempatan, pembatasan potensi, dan ancaman bagi masa depan generasi penerus bangsa. Anak-anak yang seharusnya memiliki hak yang sama untuk mengenyam pendidikan berkualitas, justru harus berjuang lebih keras hanya untuk mendapatkan akses ke bangku sekolah. Jurang ketidakadilan pendidikan semakin menganga, memisahkan mereka yang tinggal di pulau terpencil dari kemajuan dan peluang yang seharusnya menjadi hak mereka.

Disaat Presiden Prabowo Subianto memandatkan Kemensos untuk menghadirkan Sekolah Rakyat. Dengan sarana dan prasarana yang digadang-gadang lengkap. Bahkan ada asrama bagi siswa. Seyogyanya bukan hanya anak-anak miskin yang ada di kota dapat ditampung di sana untuk mengenyam pendidikan, tetapi mungkin anak-anak dari pulau-pulau terpencil ini dapat direkrut masuk. Mereka (anak-anak) yang ada di pulau – pulau juga adalah generasi bangsa ini. Yang butuh perhatian dan sentuhan dari seluruh stakeholder. Karena begitulah isi dari salah satu Filosofi Ki Hajar Dewantara, “Memanusiakan Manusia”.

Daftar Sekolah yang berada di Pulau:

  1. UPT SPF SMP Negeri 38 Makassar, Kelurahan Kodingareng, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar.
  2. UPT SPF SMP Negeri 28 Makassar. SMP ini memiliki alamat di Pulau Barrang Lompo, Kelurahan Barrang Lompo, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar. 
  3. UPT SPF SMP NEGERI 41 SATU ATAP MAKASSAR. Sekolah ini berlokasi di Pulau Lae-Lae, Kota Makassar. (sumber. daftar sekolah.net)

Dengan melihat daftar di atas, keberadaan sekolah yang ada di pulau belum memenuhi dengan jumlah penduduk Kota Makassar yang tersebar di pulau-pulau terpencil.

Pemerintah Kota Makassar maupun Provinsi Sulawesi Selatan selalu mencari jalan untuk menyetarakan pendidikan di seluruh pelosok bahkan sampai ke pulau-pulau terpencil.