BERITA

Akademisi UHO Lakukan Pengabdian Dampingi Penenun Masalili

393
×

Akademisi UHO Lakukan Pengabdian Dampingi Penenun Masalili

Sebarkan artikel ini
Ket : Kegiatan pembimbingan dalam pengembangan potensi wisata budaya para penenun di masalili yang di dampingi oleh TIM Pengabdian dari UHO

Muna,lensa-rakyat.com || Dalam rangka mendukung sektor pariwisata Desa Masalili Kabupaten Muna, Tim Pengabdian UHO turut berpartisipasi memberikan pendampingan kepada pelaku pariwisata khususnya penenun di desa tersebut.

Kegiatan pengabdian yang dilaksanakan pada 29 Oktober 2024 dengan bertemakan “Bimbingan dalam Pengembangan Potensi Wisata Budaya kepada para Penenun dan Pelaku Usaha Lokal di Desa Masalili Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara”.

banner 970x250

Kegiatan pengabdian yang diselenggarakan di Aula Desa Masalili tersebut diikuti sekitar 21 penenun yang juga memiliki usaha penjualan kain tenun khas Desa Masalili. Adapun tim pengabdian dari UHO yakni Dr. Sitti Hermina, Halijah Koso, Abdul Latif, Faika Burhan, dan La Ode Wahidin.

Ketua Tim Pengabdian UHO Dr. Sitti Hermina mengatakan bahwa Desa Masalili merupakan salah satu desa wisata yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan.

Untuk mendukung hidupnya sektor pariwisata tersebut maka masyarakat perlu diberi pendampingan untuk mempersiapkan diri menghadapi waisatawan yang berkunjung. Apalagi kegiatan menenun telah menjadi kegiatan turun-temurun di Desa Masalili hingga tenun khas Masalili kini telah menjadi sentra produksi kain tenun tradisional khas Muna.

Ket : Tim pendampingan UHO memberikan pembinaan di hadapan 21 penenun Masalili

Menurut Sekretaris Desa Masalili Maulid bahwa hampir setiap rumah di Desa Masalili menghasilkan kain sarung tenun yang dikenal dengan istilah Kamooru. Masyarakat Muna mempercayai bahwa untuk menenun Kamooru harus disertai pikiran yang bersih dan tenang.

“Apalagi rangkaian motif tenus Masalili dikenal memiliki corak motif yang rumit sehingga membutuhkan konsentrasi penuh saat membuatnya,” Ujarnya.

Adapun pemateri kegiatan pengabdian tersebut yakni Abdul Latif, dalam materinya ia menegaskan bahwa untuk membangun desa wisata yang sukses dibutuhkan perencanaan yang matang, keterlibatan masyarakat, serta pemanfaatan potensi alam dan budaya lokal.

Selain itu, wisata tenun Masalili juga mesti didukung dengan ketersediaan infrastruktur dan fasilitas yang membuat wisatawan merasa nyaman berkunjung.

“Jadi mesti ada kolaborasi antara Pemerintah, akademisi, hingga investor untuk memajukan sektor pariwisata,” ujarnya.

Redaksi : Alun

BERITA

Seorang buruh harian lepas bernama Basir alias Cambo (42) tewas setelah terkena anak panah dalam tawuran antarwarga di Jalan Al-Markaz, Kecamatan Tallo, Makassar, pada 30 Januari 2026. Korban meninggal di lokasi akibat luka tembus di dada kiri.

Polisi menetapkan tiga pemuda berusia 18–19 tahun sebagai tersangka. Bentrokan diduga dipicu provokasi antara dua kelompok warga yang sudah lama berkonflik. Para pelaku menggunakan senjata rakitan seperti busur, ketapel, dan anak panah.

Ketiga tersangka dijerat pasal pembunuhan berencana dan kepemilikan senjata tajam ilegal dengan ancaman hukuman pidana mati, penjara seumur hidup, atau maksimal 20 tahun penjara. Polisi meningkatkan patroli di wilayah Tallo yang dikenal rawan tawuran serta mengimbau masyarakat melaporkan potensi konflik sejak dini.