LENSA RAKYAT.COM,
Ketika Tragedi Menjadi Rutinitas yang Diabaikan
Setiap kali destinasi wisata memakan korban, respons yang muncul hampir selalu sama: duka cita, evaluasi, dan janji perbaikan. Namun setelah sorotan mereda, persoalan mendasar kembali tenggelam. Korban baru terus bermunculan, sementara peringatan lama hanya menjadi arsip tanpa tindak lanjut nyata.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Fakta yang paling menyedihkan bukanlah terjadinya kecelakaan itu sendiri, melainkan pola yang terus berulang. Kurangnya Standar Operasional Prosedur (SOP), minimnya pengawasan, lemahnya mitigasi risiko, hingga absennya petugas keselamatan seolah menjadi mata rantai yang tidak pernah diputus.
Wisata seharusnya menawarkan pengalaman menyenangkan, bukan mempertaruhkan nyawa. Namun ketika keselamatan ditempatkan sebagai pelengkap, bukan prioritas, maka tragedi hanya tinggal menunggu waktu.
Pertanyaannya sederhana: berapa banyak lagi korban yang harus jatuh sebelum SOP benar-benar diterapkan secara konsisten? Jika setiap insiden hanya berakhir pada seruan evaluasi tanpa tindakan nyata, maka korban berikutnya bukan lagi sebuah kemungkinan, melainkan konsekuensi yang sudah dapat diprediksi.
Keselamatan tidak boleh hadir setelah tragedi terjadi. Ia harus menjadi syarat utama sebelum pintu destinasi wisata dibuka untuk publik.
Penulis : Hsb
Editor : Tim Redaksi






















