Belajar Ketahanan Pangan dari Kasepuhan Gelar Alam bersama Mahasiswa Pascasarjana IPB University

- Penulis

Selasa, 16 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ket : Mahasiswa Pascasarjana ESL IPB University Bedah Sistem Ekonomi Kelembagaan di Kasepuhan Gelar Alam

Ket : Mahasiswa Pascasarjana ESL IPB University Bedah Sistem Ekonomi Kelembagaan di Kasepuhan Gelar Alam

SUKABUMI,lensa-rakyat.com || Program Studi Pascasarjana Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan (ESL) IPB University mengadakan kegiatan kuliah lapang untuk mata kuliah Ekonomi Kelembagaan. Diikuti oleh 16 mahasiswa pascasarjana, kegiatan ini berlokasi di Kasepuhan Gelar Alam (sebelumnya dikenal sebagai pusat adat Kasepuhan Ciptagelar), Sukabumi, Jawa Barat. Agenda ini dirancang untuk mendalami bagaimana kelembagaan lokal (informal) mampu bertahan selama berabad-abad dalam menjaga ketahanan pangan dan mengelola sumber daya alam secara efektif.

Kasepuhan Gelar Alam dipilih karena memiliki sistem adat yang mandiri dan kokoh. Berdasarkan kacamata Ekonomi Kelembagaan, masyarakat adat di sana dinilai sukses menyelaraskan norma lokal dengan hak kepemilikan (property rights) atas air, hutan, dan tanah. Keberhasilan ini berdampak pada minimnya konflik sekaligus mencegah eksploitasi alam yang berlebihan (tragedy of the commons).

Selama kegiatan, para mahasiswa berdiskusi dengan sesepuh adat serta warga setempat untuk mengkaji tiga fokus utama: sistem kelembagaan leuit (lumbung padi) untuk ketahanan pangan, zonasi hutan adat dengan sanksi sosialnya, serta mekanisme transaksi berbasis modal sosial (social capital) dan rasa saling percaya (trust).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Rangkaian acara diawali dengan prosesi izin kepada Pimpinan Adat, disusul diskusi mendalam bersama Abah Ugi mengenai integrasi aturan informal dan hak kepemilikan. Mahasiswa juga melakukan aksi nyata menanam bibit kopi lokal bersama masyarakat, serta mengelilingi kawasan adat bersama Mang Ujang dari perwakilan Ciptarasa Lestari untuk mempelajari tata ruang dan sejarah setempaket.

Ket

Ket : Bersama Abah Ugi /pimpinan Adat kesepuhan Gelar Alam

Dalam tata kelola kelembagaan, Abah Ugi dibantu oleh 7 Rorokan (lembaga kerja) yang fungsinya menyerupai kementerian modern. Ketangguhan sistem ini terlihat di sektor pertanian, di mana Kasepuhan Gelar Alam mampu melestarikan lebih dari 500 varietas padi lokal yang dipanen setahun sekali berkat akurasi perhitungan astronomi tradisional. Untuk menjaga hutan, wilayah dibagi menjadi tiga zona: Hutan Garapan (ekonomi), Hutan Titipan (penyangga terbatas dengan syarat tanam ulang), dan Hutan Tutupan (konservasi total).

Baca Juga:  80 Siswa SMK Darul Ulum Panaikang Bantaeng Ikuti Sosialisasi Kader Kesehatan Remaja

Kegiatan ini memberikan kesan mendalam bagi peserta. Firdaus, salah satu mahasiswa pascasarjana yang berasal dari Sulawesi Tenggara, mengaku takjub karena menemukan paralelisme atau kemiripan yang sangat kuat antara Kasepuhan Gelar Alam dengan kearifan lokal masyarakat adat Moronene di Hukaea Laeya, Sulawesi Tenggara.

“Saya melihat adanya benang merah kelembagaan yang identik antara sistem zonasi hutan di sini dengan masyarakat adat Moronene di Hukaea Laeya. Di Kasepuhan ada konsep Hutan Tutupan yang dilarang keras untuk dieksploitasi, hal itu sangat mirip dengan konsep Sampiri dalam budaya Moronene, yaitu kawasan hutan suci dan lindung mutlak demi menjaga sumber air. Sementara konsep Hutan Titipan yang boleh diambil kayunya secara terbatas memiliki kesamaan dengan Inasi Tokopo,” ungkap Firdaus.

Ia juga menambahkan bahwa kedua masyarakat adat ini sama-sama mengandalkan hukum tutur (lisan) yang memiliki daya ikat luar biasa di masyarakat.

“Jika di Sukabumi kepatuhan terhadap aturan adat Abah Ugi begitu absolut, di Hukaea Laeya pun masyarakat adatnya patuh pada hukum lisan Asati dan takut akan sanksi adat Pombahani. Ini adalah bukti empiris yang luar biasa bagi studi Ekonomi Kelembagaan, menunjukkan bahwa local institutional arrangement di berbagai daerah di Indonesia memiliki efisiensi yang sama tingginya dalam mencegah kehancuran ekosistem,” jelasnya.

Kuliah lapang ini menjadi refleksi berharga bagi para mahasiswa bahwa modernisasi tidak harus merusak tradisi, dan kelestarian alam justru bisa dicapai lewat penguatan kelembagaan lokal.

Penulis : Elis

 

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel lensa-rakyat.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kapolrestabes Ajak Peran Aktif Orang Tua di Lakkang
Kemenag Muna Barat Lampaui Target, 1.292 Peserta Ikuti Gerakan Nasional Pengukuran Arah Kiblat
Perkuat Sinergitas Polri dan Kejaksaan, Kapolda Sulsel Gelar Silaturahmi Bersama Kajati Sulsel
Kapolda Sulsel Hadiri Coffe Morning TNI-Polri di Kodam XIV/Hasanuddin, Perkuat Soliditas dan Sinergitas Antar Lembaga
Kapolsek Bangkala Bekali Siswa Baru SMA 4 Jeneponto dengan Materi Anti Narkoba di MPLS
Kapolrestabes Makassar Perkuat Sinergitas Melalui Silaturahmi Bersama Kajari Makassar
Polres Jeneponto Gagalkan Pengiriman 500 Liter Miras Ballo ke Gowa, Dua Pria Diamankan
Evakuasi di Jalan Indah 3: Proses Identifikasi dan Penyelidikan Berjalan
Berita ini 36 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 02:16 WITA

Kapolrestabes Ajak Peran Aktif Orang Tua di Lakkang

Rabu, 15 Juli 2026 - 14:01 WITA

Kemenag Muna Barat Lampaui Target, 1.292 Peserta Ikuti Gerakan Nasional Pengukuran Arah Kiblat

Rabu, 15 Juli 2026 - 13:11 WITA

Perkuat Sinergitas Polri dan Kejaksaan, Kapolda Sulsel Gelar Silaturahmi Bersama Kajati Sulsel

Rabu, 15 Juli 2026 - 13:00 WITA

Kapolda Sulsel Hadiri Coffe Morning TNI-Polri di Kodam XIV/Hasanuddin, Perkuat Soliditas dan Sinergitas Antar Lembaga

Rabu, 15 Juli 2026 - 08:24 WITA

Kapolsek Bangkala Bekali Siswa Baru SMA 4 Jeneponto dengan Materi Anti Narkoba di MPLS

Berita Terbaru

BERITA

Kapolrestabes Ajak Peran Aktif Orang Tua di Lakkang

Kamis, 16 Jul 2026 - 02:16 WITA