LENSA RAKYAT.COM,
Istilah “jaman edan” bukanlah ungkapan baru dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kalimat yang pernah dipopulerkan oleh pujangga Jawa itu kini terasa semakin relevan di tengah realitas sosial modern. Bedanya, jika dahulu kegilaan zaman hadir dalam bentuk kekacauan sosial dan politik, hari ini “jaman edan” tampil lebih liar melalui media sosial, budaya sensasi, dan krisis empati yang perlahan dianggap biasa.
Di era digital, setiap orang bisa menjadi pusat perhatian hanya dalam hitungan detik. Sayangnya, popularitas kini sering lebih dihargai dibanding kualitas atau etika. Konten penuh kemarahan, fitnah, hingga penghinaan justru lebih cepat mendapat perhatian publik. Banyak orang berlomba menjadi viral tanpa memikirkan dampak sosial yang ditinggalkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Fenomena ini memperlihatkan bahwa masyarakat sedang mengalami pergeseran nilai. Kejujuran sering kalah oleh pencitraan. Kesederhanaan dianggap kurang menarik dibanding kemewahan yang dipamerkan. Bahkan, kebohongan yang diulang terus-menerus dapat diterima sebagai kebenaran oleh sebagian orang.
Yang lebih mengkhawatirkan, budaya saling menghujat mulai dianggap hiburan. Empati semakin menipis karena orang lebih sibuk mencari pembenaran daripada memahami sesama. Dalam ruang digital, seseorang bisa dihakimi tanpa proses yang adil hanya karena potongan video atau narasi sepihak.
“Jaman edan” juga terlihat dari cara masyarakat menyerap informasi. Banyak orang lebih mudah percaya pada isu provokatif dibanding data yang jelas. Akibatnya, hoaks berkembang cepat dan memecah hubungan sosial. Ruang publik dipenuhi kegaduhan, sementara suara akal sehat sering tenggelam oleh emosi massa.
Namun, keadaan ini bukan alasan untuk ikut hanyut. Justru di tengah situasi yang semakin liar, masyarakat membutuhkan kesadaran untuk kembali pada nilai kemanusiaan, etika, dan tanggung jawab sosial. Teknologi seharusnya menjadi alat membangun pengetahuan, bukan memperluas kebencian.
Pada akhirnya, “jaman edan” bukan hanya tentang rusaknya keadaan, tetapi tentang bagaimana manusia memilih sikap di tengah kekacauan. Sebab ketika kewarasan mulai dianggap aneh, maka menjaga akal sehat dan empati menjadi bentuk perlawanan yang paling penting.
Penulis : Hsb
Editor : Tim Redaksi






















