LENSA– RAKYAT.COM
Dalam politik, pergantian wajah tidak selalu berarti perubahan arah. Sering kali publik disuguhi narasi pembaruan, padahal yang berubah hanya kemasan. Pola lama tetap dipertahankan, aktor boleh berganti, tetapi cara berpikir dan cara mengelola kekuasaan tetap sama. Inilah yang dapat disebut sebagai “isi lama, kemasan baru.”
Masalah menjadi semakin serius ketika loyalitas ditempatkan sebagai syarat utama untuk memperoleh jabatan strategis. Kesetiaan kepada kelompok, elite, atau pemimpin dianggap lebih penting daripada kemampuan menjalankan tugas secara profesional. Akibatnya, kompetensi kehilangan nilai, sementara moralitas hanya menjadi slogan yang menghiasi pidato-pidato politik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam kondisi seperti ini, proses pengambilan keputusan berpotensi kehilangan kualitas. Kritik dianggap ancaman, perbedaan pendapat dipandang sebagai bentuk pembangkangan, dan ruang bagi orang-orang yang memiliki kemampuan tetapi tidak berada dalam lingkaran loyalitas menjadi semakin sempit. Padahal, pemerintahan yang sehat membutuhkan keberanian menerima kritik dan menempatkan orang berdasarkan kapasitas, bukan sekadar kedekatan.
Lebih jauh lagi, dominasi politik berbasis loyalitas dapat melahirkan budaya impunitas. Kesalahan mudah dimaklumi selama pelakunya dianggap setia, sementara mereka yang berintegritas tetapi kritis justru tersingkir. Situasi seperti ini bukan hanya merugikan institusi, tetapi juga menggerus kepercayaan masyarakat terhadap demokrasi.
Demokrasi sejatinya tidak dibangun di atas hubungan patronase, melainkan melalui sistem yang menghargai meritokrasi, akuntabilitas, dan integritas. Loyalitas memang memiliki tempat dalam organisasi politik, tetapi tidak boleh mengalahkan kepentingan publik. Kesetiaan yang paling penting seharusnya adalah kesetiaan kepada konstitusi, hukum, dan rakyat.
Pada akhirnya, perubahan tidak cukup diukur dari slogan atau wajah baru. Ukuran sesungguhnya adalah keberanian membangun sistem yang menjadikan kompetensi dan moralitas sebagai fondasi utama. Jika tidak, politik hanya akan terus menghadirkan isi lama dengan kemasan baru, sementara harapan masyarakat terhadap perubahan nyata akan kembali menjadi sekadar janji yang berulang.
Penulis : Hsb
Editor : Tim Redaksi






















