Monumen Mandala Makassar: Sejarah, Latar Pembangunan, dan Maknanya bagi Bangsa

Monumen Mandala di Makassar dibangun untuk mengenang perjuangan Operasi Trikora dalam pembebasan Irian Barat. Simak sejarah, latar pembangunan, dan makna monumen ini sebagai ikon perjuangan bangsa Indonesia.

- Penulis

Jumat, 24 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LENSA-RAKYAT.COM, Makassar, Sulawesi Selatan | Monumen Mandala bukan sekadar bangunan bersejarah di tengah Kota Makassar, melainkan simbol perjuangan bangsa Indonesia dalam membebaskan Irian Barat dari penjajahan Belanda. Terletak di Jalan Jenderal Sudirman, monumen ini menjadi salah satu landmark penting yang mencerminkan semangat nasionalisme dan patriotisme.


Latar Belakang Pembangunan Monumen Mandala

Monumen Mandala dibangun untuk mengenang Operasi Trikora (Tri Komando Rakyat) yang dicanangkan oleh Presiden Soekarno pada 19 Desember 1961 di Yogyakarta. Tujuan utama operasi ini adalah merebut kembali Irian Barat (Papua) yang masih dikuasai Belanda setelah pengakuan kedaulatan Indonesia tahun 1949.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Makassar memiliki peran penting dalam sejarah ini, karena menjadi pusat Komando Mandala Pembebasan Irian Barat di bawah pimpinan Mayor Jenderal Soeharto. Dari kota inilah berbagai strategi militer dan diplomatik disusun untuk melaksanakan Operasi Trikora.


Sejarah dan Proses Pembangunan Monumen

Pembangunan Monumen Mandala dimulai pada 6 Januari 1994 dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 11 Januari 1995. Pembangunan ini merupakan inisiatif Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, didukung oleh TNI dan masyarakat.

Monumen ini dirancang dengan gaya arsitektur modern namun penuh simbolisme perjuangan. Bangunannya terdiri dari tiga lantai utama, masing-masing memiliki fungsi dan makna:

  1. Lantai Pertama: Menampilkan diorama perjuangan Operasi Trikora, dokumentasi foto, dan peta operasi militer.
  2. Lantai Kedua: Ruang perenungan dan penghormatan bagi para pahlawan yang gugur dalam perjuangan.
  3. Lantai Ketiga: Menara pandang yang memberikan panorama Kota Makassar, melambangkan cita-cita tinggi bangsa Indonesia.
Baca Juga:  Bansos “Sentuhan Kasih” Program Polres Tana Toraja Kepada Guru Honorer

Makna Filosofis “Mandala”

Kata Mandala berarti wilayah operasi atau komando dalam istilah militer. Nama ini dipilih untuk menggambarkan semangat kebersamaan, kesatuan komando, dan tekad bangsa Indonesia mempertahankan keutuhan wilayahnya.
Monumen Mandala menjadi pengingat abadi bahwa perjuangan membebaskan Irian Barat bukan hanya lewat senjata, tapi juga diplomasi dan kesatuan bangsa.


Irian Barat Kembali ke Indonesia

Melalui perjuangan yang panjang dan proses diplomasi internasional, akhirnya Irian Barat resmi menjadi bagian dari Indonesia pada 1 Mei 1963, dan kemudian hasil Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1969 memperkuat integrasinya dalam NKRI. Monumen Mandala menjadi simbol keberhasilan tersebut.


Monumen Mandala Sebagai Wisata Edukasi dan Budaya

Kini, Monumen Mandala menjadi objek wisata sejarah dan edukasi di Makassar. Banyak pelajar, peneliti, serta wisatawan lokal dan mancanegara berkunjung untuk mempelajari sejarah perjuangan bangsa.
Selain itu, kawasan di sekitar monumen sering digunakan untuk upacara kenegaraan, kegiatan budaya, dan peringatan hari-hari nasional, menjadikannya pusat kegiatan kebangsaan di Sulawesi Selatan.


Monumen Mandala Makassar bukan hanya bangunan bersejarah, tetapi saksi bisu perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan dan keutuhan wilayahnya. Dengan arsitektur megah dan nilai sejarah tinggi, monumen ini layak menjadi destinasi wajib bagi siapa pun yang ingin mengenal lebih dalam tentang sejarah nasional Indonesia.

(Hamzah)

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel lensa-rakyat.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sambut Hari Bhayangkara ke-80 dan Peringati Tahun Baru Islam 1448 H, Polrestabes Makassar Gelar Dzikir dan Doa Bersama
Ngopi Kamtibmas di Bontoala, Kapolrestabes Makassar: Jangan Terlena dengan Situasi Aman
Perkuat Spirit Pengabdian, Polda Sulsel Gelar Dzikir dan Doa Bersama Peringati Hari Bhayangkara ke-80
Hari Bhayangkara ke-80, Kapolrestabes Makassar Anjangsana Kepada Purnawirawan dan Warakawuri Polri
Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Polrestabes Makassar Salurkan Bantuan Sembako kepada Warga Kurang Mampu
Pemkot Makassar Tertibkan Pedagang Kelapa Muda di Kawasan RRI–Benteng Rotterdam
PKL Pasar Kalimbu Unjuk Rasa di DPRD Makassar, Tolak Relokasi ke Terminal Malengkeri
10 Damkar Dikerahkan Padamkan Kebakaran di Wala-Walaya
Berita ini 44 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 10:05 WITA

Sambut Hari Bhayangkara ke-80 dan Peringati Tahun Baru Islam 1448 H, Polrestabes Makassar Gelar Dzikir dan Doa Bersama

Kamis, 25 Juni 2026 - 08:28 WITA

Ngopi Kamtibmas di Bontoala, Kapolrestabes Makassar: Jangan Terlena dengan Situasi Aman

Kamis, 25 Juni 2026 - 08:11 WITA

Perkuat Spirit Pengabdian, Polda Sulsel Gelar Dzikir dan Doa Bersama Peringati Hari Bhayangkara ke-80

Kamis, 25 Juni 2026 - 06:30 WITA

Hari Bhayangkara ke-80, Kapolrestabes Makassar Anjangsana Kepada Purnawirawan dan Warakawuri Polri

Kamis, 25 Juni 2026 - 06:13 WITA

Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Polrestabes Makassar Salurkan Bantuan Sembako kepada Warga Kurang Mampu

Berita Terbaru