Hukum Anak yang Berhenti di Atas Kertas

Pidana pelatihan kerja bagi anak berhadapan dengan hukum kerap tak berjalan karena ketiadaan tempat pelaksanaan. Negara gagal memastikan putusan pengadilan dapat dijalankan tanpa mengorbankan hak anak.

- Penulis

Senin, 26 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pembina YAKTIBHI dan pemerhati HAM

Pembina YAKTIBHI dan pemerhati HAM

LENSA-RAKYAT.COM, MAKASSAR |Pidana pelatihan kerja kerap dipilih hakim dalam perkara anak berhadapan dengan hukum. Di atas kertas, sanksi ini tampak ideal: mendidik tanpa memenjarakan. Anak tetap berada di luar lembaga pemasyarakatan, memperoleh keterampilan, dan diharapkan tidak mengulangi kesalahannya. Masalah muncul ketika putusan itu tak bisa dijalankan. Tempat pelatihan penuh. Negara tak siap. Anak kembali menjadi korban.

Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak menempatkan kepentingan terbaik bagi anak sebagai prinsip utama. Pesannya jelas: hukum anak bukan soal balas dendam. Ia tentang masa depan. Putusan yang tidak bisa dieksekusi justru menegasikan tujuan itu. Anak dibiarkan menunggu dalam ketidakpastian, sementara sistem bergerak lamban.

Pidana pelatihan kerja diatur sebagai alternatif yang bersifat membina. Namun alternatif hanya bermakna jika tersedia pilihan nyata. Ketika sarana tidak ada, putusan kehilangan daya. Ia berhenti sebagai formalitas. Yang tersisa hanyalah beban psikologis bagi anak dan keluarganya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Independensi hakim sering dijadikan tameng. Padahal independensi tidak identik dengan mengabaikan realitas. Putusan yang tak executabel menciptakan masalah baru. Ketidakpastian hukum meningkat. Risiko pembatasan kebebasan anak pun mengintai. Padahal undang-undang menegaskan pemenjaraan anak adalah langkah paling akhir, bukan jalan keluar atas kegagalan administrasi.

Pada tahap eksekusi, peran jaksa menjadi penentu. Jaksa bukan sekadar pelaksana putusan, melainkan penjaga agar putusan itu bermakna. Ketika pelatihan kerja tidak tersedia, membiarkan status anak menggantung adalah bentuk pembiaran. Negara tak boleh kalah oleh alasan teknis.

Baca Juga:  Pilrek UHO Roll Model Demokrasi Sultra Dan Pengabdian Tanpa Batas

Lembaga pelatihan kerja, di sisi lain, tidak bisa dipaksa menerima anak di luar kapasitas. Ketentuan hukum justru menuntut pelatihan yang sesuai usia dan kebutuhan anak. Artinya, kesiapan lembaga adalah syarat, bukan pelengkap. Jika kapasitas penuh, kegagalan ada pada perencanaan, bukan pada lembaga.

Masalah ini menunjukkan cacat struktural dalam sistem peradilan pidana anak. Hakim memutus tanpa kepastian sarana. Jaksa kesulitan mengeksekusi. Lembaga terbatas daya tampungnya. Anak menanggung seluruh akibat. Negara hadir lewat regulasi, tetapi absen dalam eksekusi.

Padahal undang-undang menyediakan banyak opsi pembinaan. Pelayanan masyarakat, pembinaan di luar lembaga, hingga rehabilitasi sosial. Semua sah. Semua legal. Yang sering hilang adalah koordinasi dan keberanian mengambil keputusan cepat.

Anak yang berhadapan dengan hukum tidak boleh menjadi korban kedua kalinya—korban dari sistem yang tak siap menjalankan putusannya sendiri. Ketika putusan tak bisa dijalankan, yang gagal bukan anaknya, melainkan negaranya.

Keadilan bagi anak tidak cukup diputus di ruang sidang. Ia harus bekerja. Jika tidak, hukum hanya menjadi teks—tajam ke bawah, tumpul ke dalam sistemnya sendiri.

(Bang Ali)

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel lensa-rakyat.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Cegah Kelangkaan dan Kemacetan, Personel Polsek Arungkeke Kawal Ketat Pengisian BBM di SPBU Bulo-Bulo
Pererat Sinergi Perbankan Daerah, Direktur Bank Sulawesi Danajaya Hadiri HUT ke-10 KC Bank Banten Makassar
Polsek Tallo Gerak Cepat Padamkan Kebakaran di Lahan Tony Gosal, Warga Langsung Lapor ke SPKT
Edukasi Generasi Z dan Alpa, Biro SDM Polda Sulsel Sosialiasi Program AI*
Kapolres Jeneponto Gelar Safari Subuh, Pererat Silaturahmi dan Serap Aspirasi Masyarakat
Antisipasi Geng Motor dan Narkoba, Bhabinkamtibmas Arungkeke Gencarkan Imbauan ke Sekolah
PELETAKAN BATU PERTAMA MASJID HJ. IDA SUSANTI ILYAS DI JALAN HARIMAU MAKASSAR*
Kapolsek Bangkala Bekali Siswa Baru SMA 4 Jeneponto dengan Materi Anti Narkoba di MPLS
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 12:44 WITA

Cegah Kelangkaan dan Kemacetan, Personel Polsek Arungkeke Kawal Ketat Pengisian BBM di SPBU Bulo-Bulo

Selasa, 18 Agustus 2026 - 11:04 WITA

Pererat Sinergi Perbankan Daerah, Direktur Bank Sulawesi Danajaya Hadiri HUT ke-10 KC Bank Banten Makassar

Selasa, 18 Agustus 2026 - 09:12 WITA

Polsek Tallo Gerak Cepat Padamkan Kebakaran di Lahan Tony Gosal, Warga Langsung Lapor ke SPKT

Rabu, 29 Juli 2026 - 08:32 WITA

Edukasi Generasi Z dan Alpa, Biro SDM Polda Sulsel Sosialiasi Program AI*

Kamis, 23 Juli 2026 - 14:21 WITA

Kapolres Jeneponto Gelar Safari Subuh, Pererat Silaturahmi dan Serap Aspirasi Masyarakat

Berita Terbaru

BERITA

Polisi di Makassar Patah Tangan saat Bubarkan Tawuran

Selasa, 22 Sep 2026 - 00:12 WITA