KENDARI, lensa-rakyat.com || Aliansi mahasiswa dan elemen masyarakat yang menggelar aksi unjuk rasa menuntut perbaikan infrastruktur jalan di Kecamatan Mata Oleo, Kabupaten Bombana, diduga mendapat perlakuan represif dan intimidasi dari aparat kepolisian setempat. Menanggapi insiden tersebut, Presiden Mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) mengecam keras tindakan yang dinilai mencederai nilai-nilai demokrasi dan hak konstitusional warga negara (4 JUNI 2026).
Berdasarkan bukti rekaman video dan kesaksian massa aksi di lapangan, oknum apara termasuk Kapolres Bombana diduga mempertontonkan tindakan arogan berupa bentakan, dorongan, hingga upaya memukul mundur paksa massa aksi yang hendak menyuarakan aspirasinya.
Presiden Mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) menyatakan bahwa kehadiran aparat kepolisian yang seharusnya berfungsi sebagai pengayom dan pengaman jalannya sampaikan pendapat, justru berubah menjadi panggung intimidasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami mengecam keras aksi arogan yang dipertontonkan oleh Kapolres Bombana kepada massa aksi. Yang semestinya menjadi pengamanan, berubah menjadi panggung intimidasi. Seorang pemimpin kepolisian memilih memukul mundur suara rakyat dengan tindakan yang tidak hanya tercela secara etika, tetapi juga berbahaya bagi iklim demokrasi kita,” tegas Presiden Mahasiswa UHO dalam keterangannya, Kamis (4/6).
Ia menambahkan, kehadiran para mahasiswa dan masyarakat di jalan murni didorong oleh keresahan sosial akibat buruknya infrastruktur jalan di wilayah Mata Oleo yang sudah berlangsung lama, bukan untuk memicu keonaran. Namun, ruang dialog yang diharapkan justru dibalas dengan tindakan represif.
“Mahasiswa yang turun ke jalan tersebut bukan untuk membuat onar, tetapi untuk menyampaikan harapan dan keresahan yang sudah terlalu lama dipendam. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan harapan itu dibalas dengan bentakan, dorongan, dan tindakan yang lebih mirip penindasan daripada pengayoman. Apa yang seharusnya jadi ruang dialog, berubah menjadi panggung kekerasan,” lanjutnya.
Pihak lembaga kemahasiswaan UHO menilai tindakan represif ini telah melukai rasa keadilan publik dan menurunkan wibawa institusi kepolisian di mata masyarakat. Sebagai bentuk respons atas insiden ini, Presma UHO mengeluarkan tuntutan tegas kepada Kapolda Sulawesi Tenggara dan Kapolri untuk segera mengevaluasi kepemimpinan di Polres Bombana.
“Kami menolak diam ketika melihat wibawa negara dilecehkan oleh tangan aparatnya sendiri. Ini bukan pengamanan, melainkan penghinaan terbuka terhadap hak konstitusional warga negara untuk bersuara. Untuk itu, pernyataan kami tegas dan tanpa kompromi: copot segera Kapolres Bombana dari jabatannya, sebelum tindakan satu orang arogan ini mengubur wibawa seluruh institusi yang seharusnya melindungi kami,” pungkas Presma UHO.
Hingga rilis ini diterbitkan, pihak mahasiswa menegaskan akan terus mengawal kasus ini dan menuntut adanya investigasi internal serta transparansi atas tindakan represif yang menimpa massa aksi di Kabupaten Bombana.
Penulis : RoY






















