Jelang Pilkada Muna 2024, Founder Ide Wuna Dorong Semarak Pemilu Damai Kaseiseha

- Penulis

Jumat, 28 Juni 2024 - 22:54 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ket : Founder Ide Wuna, Agung D.Pratama, S.Hut

Ket : Founder Ide Wuna, Agung D.Pratama, S.Hut

MUNA, lensa-rakyat.com || Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Muna Tahun 2024 adalah momentum demokrasi yang turut serta melibatkan seluruh elemen masyarakat secara inklusif, aksesibel, transparan, bahkan diharapkan transisi kekuasaan dapat berjalan dengan baik dan penuh kedamaian.

Founder Ide Wuna, Agung D. Pratama mengatakan bahwaSemarak Pemilu damai merupakan upaya mendorong masyarakat agar memilih dengan bijak dengan tetap menjaga perdamaian demi kondusifitas daerah. Sebab menurutnya, hal itu adalah wujud ikhtiar dan kecintaan bersama untuk mendorong masyarakat Kabupaten Muna agar dapat menjaga keamanan dan perdamaain di kontestasi politik nantinya.

Founder Kelas Pinggiran Indonesia itu juga menjelaskan dalam menentukan pilihan senantiasa menjunjung sikap-sikap bijaksana, agar terjadi kedamaian pada Lingkup daerah Kabupaten Muna.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Menjaga kedamaian adalah bagian dari kecintaan terhadap Wuna barakati, termasuk di ruang digital/sosial media khususnya”, ucap yang kerap disapa Agung itu, pada Selasa (28/06/2024).

Terdapat tiga masalah besar yang menjadi perhatian lintas eksponen selama Pilkada di Kabupaten Muna, khususnya adalah ruang sosial media diantaranya hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian atau hate speech.

“ Pada momentum Pilkada Muna 2024 tentu kita sebagai masyallah tidak inginkan kejadian yang merugikan dan menjatuhkan mental moral bangsa, banyak melihat pendukung saling menjatuhkan bahkan itu kita dengar sendiri. Banyak membaca komentar dan narasi pada media sosial yang saling menjatuhkan yang di lontarkan dari masing-masing pendukung bakal calon bupati muna periode 2024-2029”, bebernya

Baca Juga:  Tahun ini Menjadi Awal Tahun Politik yang Puncaknya Pada 2024 Mendatang

Agung yang juga Eks Ketua Rayon PMII FHIL.Eks. Ketua Departemen Advokasi dan Pergerarakan BEM fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan (FHIL) UHO tersebut menegaskan bahwa hal tersebut tidak boleh lagi terjadi menjelang Pilkada November mendatang, Mengingat pilkada 2020 lalu para pendukung calon bupati saling menjatuhkan dan saling menghina, sehingga banyak terjadi kekacauan antar pendukung, pengerusakan hingga menghilangkan nyawa.

Ia menyampaikan bahwa saling menghina, menjatuhkan bahkan menyakiti orang lain bukan sikap sebagai mieno Wuna, karena mieno atau suku muna mempunyai Pesan Moral dari falsafah hidupnya sendiri, yakni pomasigho, poangka-angkatau dan poadha-adhati adalah untuk saling menyayangi , saling menghargai dan saling menghormati antar sesama manusia tanpa membedakan Ras, Suku, Agama maupun golongan tertentu.

Lebih lanjut iaberharap menjelang Pilkada 2024 nantinya, adalah menjadi Pilkada yang aman, tentram dan damai. Harusnya pendukung calon pimpinan daerah mesti saling mengedukasi, menasehati antar pendukung.

“Beda pilihan, menang dan kalah, itu wajar dalam demokrasi. Ke depan Pilkada Muna di jadikan sebagai sarana saling mengedukasi bahkan kita mesti beranggapan pilkada adalah pesta dan tentunya pesta kita mesti bergembira dah bersuka ria”, harapnya.

“Marilah kita kembali pada Falsafah hidup orang muna yaitu, yakni pomasigho, poangka-angkatau dan poadha-adhati adalah untuk saling menyayangi, saling menghargai dan saling menghormati. Beda pilihan sementara, keluarga selamanya, SALAM KASEISEHA”, tutupnya

Penulis : Agung D.Pratama

Editor : Roy

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel lensa-rakyat.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Law Analysis: Hukum Progresif Jadi Kunci Pulihkan Kepercayaan Publik pada Hukum
Refleksi Hardiknas: Akses Pendidikan Berkeadilan Masih Menjadi Pekerjaan Rumah Negara
1 Dekade GMNI Kendari, Jalan Panjang Perjuangan dan Pengabdian
Muna dan Batas Ekologisnya Sawit Bukan Pilihan Rasional
Hukum Anak yang Berhenti di Atas Kertas
Ketika Hakim Mengabaikan Alat Bukti Menguji Batas Independensi dan Akuntabilitas Peradilan
Mengusir Wartawan dari Acara Negara: Pelanggaran Hukum dan Ancaman Demokrasi Lokal
Sejarah Terukir, Perempuan Lahir di Gelanggang Politik dan Podium Kampus
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 4 Mei 2026 - 06:56 WITA

Law Analysis: Hukum Progresif Jadi Kunci Pulihkan Kepercayaan Publik pada Hukum

Sabtu, 2 Mei 2026 - 13:30 WITA

Refleksi Hardiknas: Akses Pendidikan Berkeadilan Masih Menjadi Pekerjaan Rumah Negara

Sabtu, 7 Maret 2026 - 04:24 WITA

1 Dekade GMNI Kendari, Jalan Panjang Perjuangan dan Pengabdian

Selasa, 17 Februari 2026 - 14:35 WITA

Muna dan Batas Ekologisnya Sawit Bukan Pilihan Rasional

Senin, 26 Januari 2026 - 06:24 WITA

Hukum Anak yang Berhenti di Atas Kertas

Berita Terbaru

Verified by MonsterInsights