Refleksi Hardiknas: Akses Pendidikan Berkeadilan Masih Menjadi Pekerjaan Rumah Negara

- Penulis

Sabtu, 2 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LENSA RAKYAT.COM, Dr. Can Imam Muhajir, S.H., M.H., Salah Satu Mahasiswa Pascasarjana Program Doktor: Negara Tidak Boleh Abai terhadap Hak PendidikanDalam momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026,

Dr. Can Imam Muhajir, S.H., M.H., yang juga merupakan salah satu mahasiswa pascasarjana program doktor, menyampaikan kritik tegas terhadap kondisi pendidikan nasional yang dinilai masih jauh dari prinsip keadilan konstitusional.

Menurutnya, pendidikan bukan sekadar program formal negara, melainkan hak dasar yang dijamin oleh konstitusi dan wajib dipenuhi tanpa diskriminasi. Namun hingga saat ini, realitas menunjukkan masih adanya ketimpangan akses, khususnya bagi masyarakat miskin dan anak yatim.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Jika negara tidak mampu memastikan akses pendidikan yang layak bagi seluruh warga negara, maka itu bukan sekadar kekurangan kebijakan, melainkan bentuk nyata pengabaian terhadap amanat konstitusi,” tegasnya.

Ia menyoroti sejumlah persoalan mendasar:

– Ketimpangan fasilitas pendidikan antara daerah dan perkotaan

– Beban biaya pendidikan yang masih memberatkan masyarakat

– Minimnya keberpihakan kebijakan terhadap kelompok rentan

Sebagai salah satu mahasiswa pascasarjana program doktor, ia menilai bahwa pendekatan kebijakan pendidikan selama ini cenderung administratif dan belum menyentuh akar persoalan keadilan sosial.

Baca Juga:  IMM FKIP UHO: Minimnya Partisipasi Perempuan Dalam Politik

“Pendidikan tidak boleh dikelola dengan logika pasar semata. Ketika pendidikan dikomersialisasikan tanpa kontrol, maka yang terjadi adalah eksklusi terhadap kelompok lemah,” ujarnya.

Dalam perspektif hukum, kondisi tersebut berpotensi sebagai pelanggaran terhadap hak konstitusional warga negara, yang seharusnya dapat diuji dan dimintakan pertanggungjawaban.

Ia juga menegaskan bahwa negara tidak boleh sekadar hadir dalam seremoni tahunan tanpa langkah konkret.

Oleh karena itu, ia mendesak:

1. Negara menjamin akses pendidikan gratis yang benar-benar merata

2. Menghapus praktik diskriminatif dalam sistem pendidikan

3. Memberikan perlindungan prioritas kepada masyarakat miskin dan anak yatim

4. Menjalankan kebijakan pendidikan yang berorientasi pada keadilan sosial

“Hardiknas harus menjadi momentum evaluasi, bukan sekadar perayaan simbolik. Jika ketimpangan terus dibiarkan, maka negara sedang mempertaruhkan masa depan generasi bangsa,” tegasnya.

Ia menutup dengan pernyataan keras:

“Pendidikan adalah hak, bukan privilese. Dan ketika hak itu diabaikan, negara wajib dimintai pertanggungjawaban—baik secara moral maupun hukum.”

(Red/Hsb)

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel lensa-rakyat.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Korban Baru, Peringatan Lama: Lingkaran Wisata Berbahaya Tanpa SOP yang Terulang
Ketika Empati Kalah Cepat dari Viral
Belajar dari filosofi Cermin yang Menjadi Pedoman tentang Kejujuran
Ketika Norma Kehilangan Ruh, Maka Aturan Hanyalah Topeng
Runtuhnya Moral dalam Institusi Mengancam Integritas dan Kepercayaan Publik
Waktu Adalah Hakim yang Paling Adil: Tak Pernah Berbicara, Namun Selalu Benar dalam Setiap Keputusannya
Ketika Hukum Tak Bertanduk, Keadilan Ikut Terseret
Fenomena “Jaman Edan” Kian Liar di Tengah Krisis Moral dan Informasi
Berita ini 5 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 12:03 WITA

Korban Baru, Peringatan Lama: Lingkaran Wisata Berbahaya Tanpa SOP yang Terulang

Senin, 8 Juni 2026 - 05:51 WITA

Ketika Empati Kalah Cepat dari Viral

Minggu, 7 Juni 2026 - 04:06 WITA

Belajar dari filosofi Cermin yang Menjadi Pedoman tentang Kejujuran

Sabtu, 6 Juni 2026 - 05:01 WITA

Ketika Norma Kehilangan Ruh, Maka Aturan Hanyalah Topeng

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:31 WITA

Runtuhnya Moral dalam Institusi Mengancam Integritas dan Kepercayaan Publik

Berita Terbaru

Di era media sosial, kecepatan menyebarkan informasi sering kali mengalahkan kepedulian untuk memahami dan merasakan kondisi sesama.

OPINI

Ketika Empati Kalah Cepat dari Viral

Senin, 8 Jun 2026 - 05:51 WITA